Tulisan ini menjelaskan huruf dan fi‘il nawasikh yang tidak hanya memiliki makna gramatikal dalam ilmu nahwu, tetapi juga dapat dijadikan inspirasi konseptual dalam merumuskan prinsip pembinaan dan pengasuhan santri. إِنَّ dan أَنَّ menggambarkan penguatan dan kesungguhan. لَكِنَّ menggambarkan pendampingan dan koreksi. لَعَلَّ menggambarkan ha rapan yang realistis. لَا dan لَيْسَ menggambarkan penegasian terhadap hal-hal yang tidak bermanfaat. Sedangkan كَانَ dan saudara-saudaranya menggambarkan kesinambungan dan transformasi. Dalam tradisi pendidikan pesantren, pembinaan santri tidak hanya dipahami sebagai proses mengatur, mengawasi, atau mendisiplinkan santri. Lebih dari itu, pembinaan merupakan proses membentuk kepribadian, menguatkan potensi, mengarahkan perilaku, menumbuhkan harapan, serta mendampingi santri agar mampu berkembang sesuai dengan tujuan pendidikan Islam. Menariknya, prinsip-prinsip pembinaan tersebut dapat dibaca melalui pendekatan kebahasaan Arab...
Oleh : K.H. Abdurrahman, SE ( Pendiri dan Pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya ) Berjuang, dalam pandangan Kiyai Abdurahman, SE, adalah sebuah perjalanan seni dan kreasi tingkat tinggi. Lebih dari sekadar rutinitas monoton, berjuang dipandang sebagai eksplorasi yang penuh keindahan dan inovasi. Pemahaman ini tumbuh dari keyakinan bahwa berjuang dengan kreativitas dapat memelihara semangat dan menghindarkan rasa bosan. Sebagai manusia, kita berjuang untuk membentuk kekuatan, yang mana kekuatan itu sendiri berfungsi sebagai tameng melawan tipu daya iblis dan keturunannya. Menjadi bagian dari lembaga Hidayatullah bukanlah sekadar kebetulan, melainkan sebuah panggilan dari Allah SWT untuk menjawab panggilan-Nya. Panggilan ini bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan diri, melainkan untuk merespons panggilan Allah SWT secara eksklusif. Model pembinaan di pesantren Hidayatullah melalui halaqoh, seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW di Darul Arqom, menjadi pondasi bagi pe...